1.
Service Transition
A. Konsep
a) Pengertian
dan Tujuan Service Transition
Service
Transition adalah tahapan
merealisasikan/mengimplementasikan hasil tahapan Service Design menjadi layanan baru atau modifikasi layanan
sebelumnya. Sedangkan tujuan Service
Transition adalah untuk memastikan layanan baru/termodifikasi/retired services benar-benar memenuhi
harapan bisnis seperti telah terdokumentasi dalam Service Strategy dan Service
Design.
b) Perubahan
(Change) Dan Jenis-Jenis Perubahan
Perubahan (Change) mencakup penambahan, modifikasi, atau penghilangan apapun
yang dapat mempengaruhi layanan TI.
Jenis-Jenis Perubahan :
§ Standard
change
§ Emergency
change
§ Normal
change
c) Change Models
Adalah urutan langkah-langkah standar
yang sudah ditetapkan dan disetujui sebelumnya untuk menjalankan sebuah
perubahan dengan jenis tertentu.
d) Request For Change
(RFC)
Adalah sebuah dokumen/proposal resmi
untuk mengajukan sebuah perubahan, didalamnya mencakup detail perubahan yang
akan dibuat.
e) Proposal
Perubahan (Change Proposal)
Adalah dokumen yang berisi deskripsi
umum rencana perubahan besar atau sistem baru, disertai dengan business case
dan jadwal implementasinya.
f) Change Advisory Board
(CAB)
Adalah sebuah tim/kelompok/lembaga
yang berwenang memberikan autorisasi terhadap sebuah perubahandn membantu
change management dalam menilai dan melakukan prioritisasi perubahan yang akan
dilakukan.
g) Configuration Item
(CI)
Adalah komponen-komponen atau sebuah
aset layanan yang perlu untuk dikelola dalam rangka penyediaan sebuah layanan
TI.
h) Configuration Management
System (CMS)
Adalah sebuah software untuk
mengakses dan menghubungkan data-data CI yang telah tersimpan di Configuration Management Databases
(CMDBs).
i) Service Knowledge
Management System (SKMS)
Adalah sebuah tool (aplikasi) dan
basis data sebagai tempat mengelola pengetahuan, informasi, dan data layanan
TI.
j) Configuration Baseline
Adalah standar konfigurasi sebuah
aset TI yang telah disetujui secara formal. Perubahan terhadap configuration
baseline ini harus melalui prosedur standar perubahan, misalnya melalui dokumen
request for change (RFC).
k) Snapshots
Adalah potret/catatan konfigurasi
sebuah aset TI pada saat tertentu. Hasil sebuah evaluasi terhadap sebuah aset
TI tertentu dan dibandingkan dengan configuration baseline.
l) Definitive Media Library
(DML)
Adalah tempat atau lokasi dimana kita
menyimpan semua software-software resmi/licensed beserta dokumen-dokumen resminya
secara aman.
m) Release
Adalah satu atau lebih perubahan pada
satu layanan TI yang dibangun, diuji, dan diimplementasikan bersama-sama. Dapat
juga mencakup aktivitas-aktivitas perubahan pada hardware, software dan
komponen lainnya.
n) Release Policy
Adalah sekumpulan aturan untuk
melakukan deployment sebuah release ke lingkungan kerja sebenarnya, berisi
pilhan-pilihan skenario yang dipilih menyesuaikan dengan analisis urgency dan
dampaknya. Umumnya dirumuskan dan disetujui oleh change manager, termasuk
didalamnya pengelompokkan paket-paket release.
B. Proses
a) Change Management
Adalah proses utama dalam service
transition yang bertugas memastikan perubahan-perubahan TI telah tercatat,
terevaluasi, terautorisasi, dan terimplementasi ke lingkungan kerja yang
sebenarnya dengan penuh kontrol.
Aktivitas-aktivitas change management
:
1) Membuat dan mencatat RFC
2) Me-review RFC
3) Menilai dan mengevaluasi perubahan
4) Autorisasi implementasi perubahan
5) Update rencana perubahan
6) Koordinasi implementasi perubahan
(pembangunan) dan pengujian
7) Autorisasi penerapan perubahan pada
lingkungan kerja sebenarnya
8) Koordinasi chage deployment
9) Mereview dan menutup catatan perubahan.
b) Service Asset And Configuration
Management (SACM)
Adalah proses mencatat,
mendokumentasi, dan mengupdate informasi tentang berbagai service assets yang
terkait layanan-layanan TI yang dikelola penyedia layanan.
Cakupan SACM :
Manajemen siklus hidup lengkap setiap
CI, yakni setiap CI dapat telusuri sejak dari tahapan pembelian hingga
pembuangan.
Aktivitas – aktivitas SACM :
1) Manajemen dan perencanaan
2) Identifikasi konfigurasi
3) Kontrol konfigurasi
4) Akuntansi dan pelaporan status aset
5) Verifikasi dan audit
c) Release And Deployment
Management
Adalah proses merencanakan, membuat
time-table dan mengontrol pembangunan, pengujian dan pengimplementasian
sistem/perubahan baru yang dibutuhkan oleh bisnis dengan tetap melindungi
integritas layanan-layanan yang sudah ada sebelumnya.
Aktivitas - aktivitas release and
deployment management :
1) Perencanaan
2) Pembangunan dan pengujian paket release
3) Deployment
4) Early life support
5) Review dan menutup akses.
d) Knowledge Management
Adalah proses mengumpulkan,
mendokumentasikan, menganalisis, membagi, menggunakan, dan mengupdate
pengetahuan yang dibutuhkan dan diperoleh selama mengelola layanan Tidisemua
tahapan siklus layanan TI.
Aktivitas – aktivitas knowledge
management :
1) Strategi manajemen pengetahuan
2) Transfer pengetahuan
3) Pengelolaan data, informasi dan
pengetahuan
4) Pengelolaan SKMS
e) Transition
Planning And Support
Adalah kegiatan perencanaan dan
dukungan untuk suatu transisi dari sistem/layanan lama ke sistem/layanan baru.
Kegiatan transisi layanan sering dilakukan sebagai proyek, atau merupakan
bagian dari proyek-proyek lain sehingga membtuhkan koordinasi terhadap semua
aktivitas-aktivitas yang ada.
Contoh Kasus
Penggunaan Teknologi Informasi (IT)
dalam instansi harus memiliki tata kelola IT yang terencana sehingga dapat
memastikan penggunaan IT memenuhi kebutuhan bisnis guna mendukung tercapainya
tujuan instansi. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Air (PT. XYZ)
merupakan intstansi pemerintah non-profit yang berfokus pada penyedia layanan
penelitan. Penyampaian kualitas layanan merupakan fokus utama bagi PT. XYZ.
Infrastruktur IT merupakan aset PT. XYZ yang dapat menunjang kegiatan
operasional. Berdasarkan daftar keluhan user diketahui terdapat gangguan
terhadap layanan IT pada PT. XYZ yang disebabkan oleh kerusakan maupun
penurunan fungsi kerja infrastruktur IT. Berdasarkan buku output pengelolaan
jaringan Local Area Network (LAN) dan internet 2014 ditemukan kendala PT. XYZ
dalam hal pengelolaan infrastruktur IT yakni kondisi dan data infrastruktur IT
tidak terdokumentasi dengan baik. Berdasarkan kebutuhan PT. XYZ dilakukan
perancangan IT governance berbasis IT Service Management (ITSM) yang
menyediakan standar untuk mengoptimalkan kualitas layanan IT. Information
Technology Infrastructure Library (ITIL) merupakan framework berbasis layanan yang
dapat dijadikan panduan dalam perancangan IT governance PT. XYZ. Maka dari itu,
perancangan change management dan service asset and configuration management
ITIL versi 3 (2011) dilakukan. Penelitian ini menghasilkan standard operational
procedure (SOP) serta template laporan akhir change management, template
request for change, dan standard operational procedure (SOP) serta template
laporan akhir
service asset and configuration
management.
2.
Service
Operation
A. Konsep
a) Pengertian,
tujuan dan peran penting tahapan Service
Operation
Service
operation ialah tahapan operasional layanan TI
sehari – hari, termasuk melakukan aktivitas dukungan terhadap layanan TI untuk
memastikan value layanan benar –benar dirasakan dan sesuai dengan harapan serta
kebutuhan pengguna yang dilakukan secara berkala.
Service
operation bertujuan untuk :
1) Mengkoordinasikan
dan melaksanakan kegiatan dan proses yang dibutuhkan untuk memberikan layanan
TI kepada pengguna dan pelanggan, serta mengelola layanan memenuhi tingkat
layanan yang telah disepakati.
2) Mengelola
teknologi yang digunakan untuk menghasilkan dan mendukung layanan TI. Seperti
bagaimana memahami dan mengelola komponen-komponen teknologi seperti server,
mainframe, jaringan komputer, komunikasi, basis data, media penyimpanan, sistem
desktop dan aplikasi software.
Peran penting dari tahapan service
operation ialah adanya suatu hal yang menjalankan suatu proses supaya bisnis
berjalan dengan lancar (terukur atau hanya biasa saja) dan menyeimbangkan
konflik antar aspek (keseimbangan dari semua aspek ; Bisnis & TI, Cost
& Quality).
b) Event
dan Jenis Event
Event
ialah sebuah perubahan keadaan pada infrasturktur TI yang memiliki nilai
penting bagi manajemen layanan TI atau configuration item TI, berupa pesan atau
tampilan yang dihasilkan oleh layanan, configuration item atau alat monitoring.
Jenis – jenis event :
1) Informasi
(information) : sebuah event yang normal terjadi sehingga tidak memerlukan tindakan apapun, misalnya
seseorang yang login ke suatu sistem.
2) Peringatan
(warning) : sebuah event yang berada diambang batas normal dengan adanya sebuah
peringatan yang nantinya memerlukan sebuah respon tindakan yang diperlukan atau
tidak untuk mencegah potensi kegagalan. Contohnya adanya peringatan bahwa
volume disk hanya tersisa 5% dari maksimum kapasitas yang diijinkan.
3) Ketidak-wajaran
(Exception) : sebuah event yang menginformasikan bahwa sebuah layanan atau
komponen berjalan tidak sewajarnya (abnormal) dan membutuhkankan respon
tindakan, seperti kecepatan akses internet yang sangat lambat.
c) Incident
vs Problem
Incident adalah kejadian interupsi
sebuah layanan yang tidak terencana (tidak diharapkan) atau penurunan kualitas
sebuah layanan Ti. Sedangkan problem ialah akar (sumber, penyebab) dari satu atau lebih incident.
d) Impact,
Urgency, dan Priority
Impact
|
Urgency
|
Priority
|
Seberapa besar potensi kerugian yang ditimbulkan
atau seberapa banyak jumalah pengguna terkena dampak dari sebuah incident,
problem atau change pada proses-proses bisnis.
Yang umumnya
diukur berdasarkan seberapa pemenuhan target/standar tingkat layanan TI
(Service levels) akan terpengaruh.
|
Seberapa lama
waktu yang dibutuhkan untuk penyelesaian atau penanganan dari incident,
problem, atau change yang memiliki dampak signifikasi pada bisnis.
|
Sebuah kategori yang digunakan untuk
menentukan nilai penting sebuah incident, problem, atau change.
Priority diukur
berdasarkan impact dan urgency, dan digunakan untuk menentukan seberapa cepat
sebuah tindakan respon harus segera diambil.
|
e) Major Incident,
Timescale, dan Incident Model
Major Incident ialah Kategori
tertinggi sebuah incident, yang memiliki karakteristik :
a. Incident
yang memiliki dampak besar pada bisnis,
b. Memiliki urgensi tinggi,
c. Penyebab
telah diketahui tetapi belum ada panduan solusi atau workaround.
Perusahaan
harus mendefinisikan indikator major incident (misal jika kejadian berdampak
pada minimal 5.000 pengguna) dan membuat prosedur penangan khususnya, baik
dalam hal timescale (umumnya timescale lebih pendek) maupun staf yang
menanganinya. Seringkali beberapa incident yang memiliki prioritas rendah namun
berdampak tinggi bagi perusahaan menggunakan major incidents ini.
Timescale
ialah Target waktu respon dan penyelesaian sebuah incident sesuai yang ditulis
di dokumen SLA.
Incident
Model adalah sebuah prosedur standar aktivitas dan timescale telah ditetapkan
sebelumnya) yang dibuat untuk menangani incident “standar” atau “special”.
Informasi
yang harus ada dalam incident model mencakup :
a. Tindakan-tindakan
yang harus diambil untuk menangani incident
b. Urutan
tindakan
c. Penanggung-jawab
d. Timescales
e. Prosedur
eskalasi
f) Workaround,
Known Error, dan Known Error Database (KEDB)
Workaround
: tindakan standar (terdokumentasi) untuk mengurangi dampak buruk dari sebuah
incident atau problem yang belum diketahui solusi tuntasnya.
Known Error
: sebuah masalah (problem) yang telah diketahui dan terdokumentasi akar
masalahnya, gejala-gejala incident-incident yang terkait, solusi standarnya
atau langkah meminimalisasi dampak buruknya apabila solusi totalnya belum
diketahui (workaround-nya).
Known Error Database
(KEDB) : basis data known error yang
akan digunakan oleh service desk dan staff pendukung lainnya untuk melakukan
incident management dan workaround.
g) Escalation
Adalah tindakan meneruskan laporan
dan penanganan incident yang belum terselesaikan ke function lain di perusahaan
untuk memperoleh dukungan lebih lanjut.
Ada 2 macam eskalasi :
1) Functional
escalation : meneruskan penanganan sebuah incident ke tim pendukung atau second
level support.
2) Hierarchical
escalation : meneruskan/mengkomunikasikan
informasi incident yang belum terselesaikan ke manajemen bisnis
diatasnya (seperti manajer) untuk dicari solusinya.
h) Service Request,
Request Model, dan Self-Help Technology
Service Request
: yakni permintaan pengguna tentang informasi tertentu, pertanyan atau
permintaan saran, perubahan yang bersifat standar (standard change), atau akses
ke suatu layanan TI. Permintaan layananan ini umumnya ditangani oleh service
desk* tanpa perlu membuat/mengirimkan RFC.
Request Model
: yakni standar prosedur (SOP) untuk menangani tipe-tipe permintaan tertentu
yang rutin terjadi.
Self-Help Technology
: teknologi berbasis web yang membantu permintaan pengguna. Umumnya dalam
bentuk formulir online yang mengharuskan pengguna untuk login ke sistem
terlebih dahulu.
i) Access Request,
Identity, Privileges
Access Request
: permintaan akses layanan, dapat berupa permintaan layanan standar atau RFC.
Identity
: yakni informasi unik dari setiap pengguna, yang menjelaskan status pengguna
didalam organisasi dan sekaligus menentukan hak akses dia terhadap sistem
layanan TI. Contoh : sidik jari.
Privileges
: yakni hak akses seseorang/grup pengguna ke satu/kelompok layanan IT.
B. Proses
a) Event Management
Event Management dasar untuk memantau
kinerja dan ketersediaan layanan, tepat sasaran dan mekanisme untuk memantau
apa yang harus ditentukan dan disepakati selama proses ketersediaan dan
Kapasitas manajemen berlangsung.
Tujuan Event Management ialah
mengelola event, yang mencakup :
1) Mendteksi
Event
2) Menganalisis
Event
3) Menentukan
tindakan yang paling tepat dan sesuai dengan Event yang sedang terjadi tersebut
Aktivitas-aktivitas pada Event Management
:
1) Event Notification, Event
Detection, Event Logging
Event Notification
: aktivitas menentukan “pesan” apa yang kita ingin hasilkan dan informasi apa
yang terdapat didalan pesan tersebut.
Event Detection : menentukan jenis notifikasi mana yang ingin
dideteksi dan dikenali oleh tools, dan menentukan apakah event akan di catat di
log/tidak dan bagaimana pencatatannya.
Event
Logging : mencatat data di dalam tools yang
mendeteksi event tersebut atau menghasilkan rekaman event dalam event-logging tool tertentu.
2) Event Filtered, Event
Correlation
Event Filtered
: aktivitas yang mengklasifikasi sebuah Event sebagai sebuah informasi,
peringatan atau ketidakwajaran dan memutuskan tindakan apa yang akan diambil
dari event tersebut.
Event Correlation
: mengambil kesimpulan dari event yang terjadi berulang-ulang sehingga dipahami
dampak akumulasinya.
3) Response selection
Menentukan jenis respon untuk setiap
kemungkinan event, yaitu :
a. Auto Response
: mengatur sebuah peralatan melakukan respon otomatis tertentu khusus untuk
sebuah event.
b. Alert
: sistem akan secara otomatis menghasilkan dan mengirimkan informasi peringatan
untuk menarik perhatian.
c. Incident,
Problem, Change : sistem mampu secara otomatis menghasilkan
laporan/permintaan untuk proses Incident Management, Problem Management, atau Change Management
sesuai kriteria-kriteria tersebut. Namun, untuk melaksanakan proses ini, perlu
persetujuan dari manajemen.
4) Review Action,
Close Event
Me-review penanganan sebuah event
perlu dilakukan untuk memastikan bahwa langkah yang tepat telah diambil. Jika
review penanganan tersebut sudah tepat, maka aktivitas event dapat dikatakan
selesai/ditutup.
b) Incident Management
Mengembalikan layanan yang bermasalah
agar berfungsi seperti sedia kala.
Aktivitas-aktivitas pada incident
management :
1) Identifikasi
incident dan logging : aktivitas menemukan/mengenali sebuah incident.
2) Kategorisasi
incident : incident yang dicatat selanjutnya dikategorisasikan dnegan kode
kategori incident.
3) Prioritisasi
incident : menentukan prioritas penanganan sebuah incident yang telah dicatat
dan dikategorisasi, secara teknis dengan memberi kode prioritas incident.
4) Diagnosis
Awal : service Desk akan berupaya untuk menyelesaikan incident terlebih dahulu
sebelum diteruskan kepada tim teknis.
5) Investigasi
dan diagnosis : penyelesaian masalah dan pemulihan kondisi layanan (resolution
and recovery), tindakan pengembalian layanan harus dipastikan benar-benar
tuntas dan catatan incident harus di update.
6) Penutupan
incident : setelah incident diatasi, staf service desk harus menginformasikan
kepada pengguna bahwa masalah telah teratasi dan memastikan pengguna puas
dengan penanganan (misalnya dengan survei) dan setuju laporan incident ditutup.
c) Problem Management
Yakni proses menganalisis dan
myelesaikan akar penyebab incident.
Reactive Problem
Management : tindakan mencari akar permasalahan
dan menyelesaikan dipicu oleh sebuah/lebih kejadian (atau sebagai reaksi dari)
incident.
Proactive Problem
Management : tindakan mencari dan menyelesaikan
akar sebuah masalah tanpa menunggu incident terjadi.
d) Request Fulfillment
Yakni proses memenuhi permintaan pengguna layanan TI,
diluar laporan terkaitdengan incident TI.
Aktivitas-aktivitas dalam request fulfillment
1) Receive,
request, request logging dan validation.
2) Request
categorization, request prioritization
3) Request
authorization
4) Request
review, request model execution
5) Request
closure
e) Access Management
Yakni proses pengelolaan hak akses pengguna ke sistem
layanan TI.
Aktivitas-aktivitas dalam access management :
1) Permintaan
akses
2)
Verifikasi
3)
Menyediakan hak akses
4)
Memonitor status identitas, mencabut,membatasi hak akses
5)
Pencatatan dan penelusuran aktivitas akses
Contoh Kasus
Sebagai team yang menangani sistem
informasi disebuah perguruan tinggi, Pada awal kami ditujuk, organisasi
tersebut belum merapkan layanan berbasis IT. Sehingga sebagai seorang ketua
team saat itu, kami yang sering dimintai tolong untuk layanan IT yang sudah
ada. Hal ini terjadi karena belum adanya service desk yang sesuai dengan
tupoksi ITIL. Akibatnya untuk layanan-layanan yang sifatnya sangat sederhana,
sebagai contoh reset password terkadang pelanggan tetap menghubungi Ketua.
Dengan kondisi ketua yang sering rapat dan harus memanage banyak hal, terkadang
hal-hal tersebut bukan membuat pelayanan menjadi cepat tetapi bahkan membuat
menjadi lambat, tidak tercatat dan terkadang tidak terselesaikan.
Kemudian kami mencoba mengubah
layanan IT yang ada menggunakan konsep ITILv3, untuk fase awal kami tidak
menggunakan seluruh fase yang ada, tetapi hanya menerapkan layanan service desk
dengan konsep Single Point Of Contact (SPoC). Hasilnya sangat mengembirakan,
terutama disisi dokumentasi terhadap masalah yang masuk ke service desk, dimana
semua masalah menjadi tercatat. Team development yang tugasnya untuk memikirkan
pengembangan sistem menjadi lebih focus dalam bekerja (tidak sering medapat
gangguan langsung dari pelanggan). Walau kedepannya akan terjadi masalah karena
penerapan SO saja tidak cukup, karena SO harus menggunakan patokan service
portfolio yang sudah didefenisikan di SS dan SD dan di uji cobakan pada fase
ST. Tetapi ini menjadi titik kemajuan penerapan ITSM dikampus kami.
Ada beberapa proses didalam Service
Operation yang harus dimanage, dimana satu sama lain saling terkait.
Proses-proses tersebut adalah:
1) Service
request (request fulfillment)
2) Incident
management
3) Problem
management
4) Event
management
5) Access
management
Kita akan membahas mengenai proses
diatas satu persatu pada bab-bab selanjutnya. Sekarang kita akan melihat
hubungan flow antara proses diatas (lihat gambar dibawah). Pada gambar dibawah,
kita bisa melihat ada beberapa aktor yang akan men-triger layana di SO, yaitu
pelanggan (end user), IT staff dan IT infrastruktur. Perbedaan diantara trigger
yang ada adalah IT Infrasruktur akan meng-generate events apabila ada ada alert
(melebihi threshold yang sudah ditentukan), IT Staff akan mengenerate incident
dan pelanggan akan berhadapan dengan Service Desk untuk kemudian baru
diitentukan apakah itu masuk kedalam service request atau berupa incident.
3.
Continual
Service Improvement (CSI)
a) Pengertian
Continual Service Improvement
Adalah proses yang berulang untuk
meningkatkan di lingkungan system manajemen untuk mencapai perbaikan di lingkungan
kinerja secara keseluruhan dan konsisten dengan menerapkan kebijakan
dilingkungan organisasi.
b) Tujuan
CSI
1) Review,
menganalisis, memprioritaskan dan membuat rekomendasi mengenai peluang perbaikan
diri setiap tahap siklus hidup.
2) Mereview
dan menganalisa pencapaian tingkat pelayanan.
3) Mengidentifikasi
dan melaksanakan kegiatan spesifik untuk meningkatkan kualitas layanan ti dan
meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses yang memungkinkan.
4) Meningkatkan
efektivitas biaya dalam memberikan layanan ti tanpa mengorbankan kepuasan
pelanggan.
5) Memastikan
metode manajemen yang berlaku untuk mendukung kegiatan perbaikan terus menerus.
6) Memastikan
setiap proses memiliki tujuan yang jelas dan pengukuran yang mengarah pada perbaikan
yang ditindaklanjuti.
7) Memahami
apa yang diukur, mengapa diukur, dan apa hasil yang diharapkan.
c) Cakupan
CSI
1) Perbaikan
secara keseluruhan ITSM sebagai suatu disiplin.
2) Penyesuaian
secara terus menerus dari portofolio layanan dengan kebutuhan bisnis saat ini
dan akan datang.
3) Kematangan
dan kemampuan organisasi, manajemen, proses, dan orang-orang dalam menggunakan
layanan.
4) Perbaikan
yang berkesinambungan dari semua aspek layanan TI dan layanan aset yang
mendukung mereka.
d) Metodologi
CSI
1) Lean Manufacturing
Metodologi ini merupakan pendekatan
secara sistematis untuk mengidentifikasi dan menghilangkan limbah melalui cara
CSI dengan mengikuti produk ditarik dari pelanggan untuk mengejar kesempurnaan.
Tujuan dari lean manufacturing pada saat itu adalah penghapusan limbah dalam
setiap bidang produksi dan termasuk hubungan pelanggan, desain produk, jaringan
pemasok, dan manajemen pabrik.
2) Six Sigma
Didefinisikan sebagai metode yang
terorganisir dan sistematis untuk perbaikan pada proses strategis dan dalam
pengembangan produk dan jasa baru yang bergantung pada metode statistik dan
metode ilmiah untuk membuat pengurangan secara dramatis di pelanggan.
3) Balanced Scorecard
Balanced Scorecard umumnya digunakan
untuk memperjelas dan memperbarui strategi bisnis, menghubungkan tujuan
organisasi dengan anggaran tahunan, memungkinkan perubahan organisasi, dan
meningkatkan pemahaman tentang visi dan misi perusahaan.
4) Lean
Six Sigma
Lean six sigma memaksimalkan nilai
pemegang saham denga mencapai tingkat tercepat dari peningkatan kepuasan
pelanggan, biaya, kualitas, kecepatan proses, dan modal yang diinvestasikan.
Mengkombinasikan dari metode lean dan six sigma ini menjadikan lean six sigma
dapat memberikan nilai yang lebih besar kepada pelanggan. Lean berusaha untuk
menghilangkan pemborosan sedangkan six sigma berusaha untuk
mengurangi variasi.
5) ITIL
ITIL memastikan konsep latihan yang
terbaik untuk menyiapkan proses ITSM ke dalam organisasi. ITIL memberikan
panduan untuk mengelola proses TI, infrstruktur TI, layanan TI yang berfokus
pada pemantauan kinerja dan koreksi yang diperlukan untuk perbaikan secara
berkelanjutan.
e) Teknik
dan Metode CSI
1) Assessment
Pilihan metode dan teknik yang
efektif untuk analisis, presentasi, dan pengukuran informasi sangat tergantung
pada keadaan yang menunjukkan tugas-tugas yang dilakukan dan sebelumnya tidak
didokumentasikan dengan baik.
2) Benchmark
Benchmark merupakan jenis penilaian
dan proses yang digunakan dalam manajemen khususnya manajemen strategis. Pada
proses ini organisasi mengevaluasi berbagai aspek proses yang berkaitan dengan
praktik terbaik, biasanya ini terjadi pada bidang organisasi masing-masing.
3) Metrics
Hal yang penting untuk diingat bahwa
ada tiga jenis metrik sebuah organisasi perlu untuk menggunakan CSI dalam
mendukung proses kegiatan proses lainnya. Secara umum, metrics merupakan skala
pengukuran yang didefinisikan dalam hal standar, yaitu unit yang terdefinisi
dengan baik. Metrics adalah sistem parameter atau cara penilaian kuantitatif
dari proses yang akan diukur. Metrics menentukan apa yang akan diukur.
Contoh
Kasus
Ada banyak penelitian yang berkaitan
dengan CSI ini dengan metode dan cara yang bermacammacam. Adapun metode ataupun
cara yang yang dipilih oleh masing-masing peneliti adalah disesuaikan dengan
pendekatan dari organisasi atau obyek penelitian. Seperti yang dilakukan oleh
Zuzana dan Iveta pada tahun 2009 melakukan penelitian mengenai cara
mengembangkan CSI dengan metode ITIL untuk dilingkungan Universitas. Pada
penelitian tersebut Zazuna dan Iveta menggunakan tujuh tahapan proses
pengembangan pada CSI (Zazuna dan Iveta, 2009). Pada tahun yang sama, Donko dan
Traljic melakukan penelitian yang sama yaitu menggembangkan CSI dengan
menggunakan metodologi Balance Scorecard. Pada penelitian tersebut, Donko
menyebutkan bahwa terdapat kesulitan implementasi CSI dengan menggunakan
Balance Scorecard dikarenakan ada tahapan konsolidasi. Hal ini bertujuan untuk
mengkonsolidasikan semua proses fasilitas ditingkat layanan operasional.
Kerangka yang digunakan adalah dengan menggunakan hubungan antara bisnis dan
layanan TI serta mengidentifikasi teknik kuantitatif dalam mengidentifikasi
berbagi kemungkinan kerugian yang akan muncul (Donko dan Traljic, 2009).
4. Financial Management For
IT Services (ITFM)
a) Pengertian
Financial Management For IT Services
Financial
Management dapat diartikan juga sebagai Manajemen
Keuangan. Manajemen keuangan merupakan segala bentuk kegiatan yang berhubungan
dengan bagaimana caranya agar bisa mendapatkan pendanaan modal, menggunakan
atau mengalokasikan dana tersebut serta untuk mengelola asset yang telah
dimiliki oleh perusahaan untuk mencapai tujuan utama perusahaan. Dalam hal ini
berupa manajemen kuangan bidang Teknologi Informasi.
b) Tujuan
Financial Management For IT Services
ITFM bertujuan untuk mengoptimalkan
penggunaan biaya dengan mempertimbangkan faktor kualitas output dengan resiko
yang ada. Dengan adanya haasil analisa dan mempertimbangkan antara kualitas dengan
resiko yang disebut dengan Balancing,
maka terciptalah strategi optimisasi biaya berbasis metrik yang cerdas. Balancing
bersifat penting
karena dengan memotong biaya belum tentu menjadi strategi terbaik untuk menghasilkan
output yang diinginkan konsumen.
c)
Aktivitas
Pekerjaan
1)
Budgeting
Untuk membantu Perusahaan dalam merencanakan
optimalisasi teknolog informasi untuk 3 hingga 5 tahun ke depan.
2)
Accounting
Layanan profesional untuk membantu
Perusahaan dalam menyediakan rencana antisipasi terhadap kejadian ekstrim yang
berpotensi mengganggu keberlangsungan bisnis Perusahaan.
3)
Charging
Untuk membantu Perusahaan dalam menyusun
panduan dalam mengelol teknologi informasi dan menyediakan layanan prima bagi
pengguna.
Contoh Kasus
Électricité de France
(EDF) merupakan perusahaan Eropa terbesar yang menyediakan dan menyalurkan
listrik, dan merupakan terbesar kedua di dunia. Berpusat di Paris dan terdaftar
dalam bursa Prancis CAC, grup EDF tercatat memiliki pendapatan €65.3 milyar
pada tahun 2011. Di UK terdapat dua bisnis utama, yaitu EDF Energy dan EDF Trading.
EDF Energy memiliki divisi Information Technology dimana divisi ini
mengatur IT Operations di EDF Energy.
IT mendukung segala sesuatu yang dilakukan pada EDF Energy. Divisi IT bertugas untuk memberikan solusi yang menjaga
data-data perusahaan tetap aman dan hal-hal berjalan dengan baik. Layanan
kritikal yang diberikan oleh IT Operation yaitu data center and application management, IT security, service desk,
IT supplier management.
5.
Demand
Management
a) Latar
Belakang
Pada masa sekarang ini disaat daya
saing semakin dibutuhkan dikalangan perusahaan, inventory planning untuk
demand management dan sales forecasting sangat diperlukan agar
suatu perusahaan dapat berjalan dengan baik, lebih efektif dan lebih efisien.
Berikut adalah gambar manufacturing planning & control system dalam suatu
perusahaan.
Sasaran Industri manufacturing
& service terdiri dari customer dan supplier. Customer
meliputi barang dan jasa yang tetap, tepat kualitas, tepat quality,
tepat waktu, tepat lokasi, tepat harga, sedangkan supplier meliputi service
level yang tinggi, pemakaian resource yang efisien, inventory investasi
rendah.
Masalah Kunci Planning Manufacturing
meliputi aliran material dari suppliers sampai distribusi,
persyaratan lead time customer, pemakaian kapasitas produksi, hubungan
dengan suppliers & customers. Untuk menyeimbangkan konflik sasaran
bisnis diperlukan keseimbangan antara inventory investment, customer
service level dan biaya produksi.
Untuk menyeimbangkan supply and
demand dibutuhkan kesimbangan sebagai berikut:
1) Supply
yang terdiri dari production & distribution efficiency dan resource availability
and flexibility
2) Demand
yang terdiri dari forecasts &
customer orders dan customer relationship management.
faktor penyebab ketidakseimbangan supply/demand
dikarenakan gagal memahami demand, lead times yang panjang,
tidak mampu merespon perubahan order dari customer.
Strategic Planning adalah
mendefinisikan Business untuk markets yang akan kita layani, products
yang akan dijual, target customer, tingkat persaingan dan dorongan untuk
berubah, internal strengths dan weaknesses, posisi produk/service
terhadap competitors .
b)
Demand
Management
Berikut ini adalah gambar
faktor-faktor yang berkaitan dengan demand management di suatu perusahaan yang
harus selalu seimbang agar kinerja perusahaan semakin baik.
1) Sales & Operations
Planning
Sales and operations planning dalam
suatu perusahaan bertujuan untuk menghubungkan business planning dengan
tactical planning di MPR, menyeimbangkan supply & demand pada level product
family Perencanaan pada level volume, bukan individual product mix level.
Sales and operations
planning tersebut mempunyai siklus tiap bulannya. sales
and operations planning tersebut melibatkan sales, manufacturing,
logistics, finance, new product development dll.
Perencanaan
resource dibutuhkan untuk menetapkan, mengukur, dan meng-adjusts
kapasitas jangka panjang, identifikasi items yang lead time nya
panjang, perencanaan resource tersebut membutuhkan approval management
untuk capital expenditure yang besar.
2) Master Scheduling
Tujuan dari master scheduling adalah
untuk :
a. Memecah
production plan dalam product family menjadi jadwal masing2 SKU, qty &
tanggal produksi.
b. Memecah
volume product family menjadi end-item mix (campuran SKU), rolls up end item
forecasts untuk menyesuaikan dengan volume product family.
c. Menghasilkan
master production schedules (MPS) untuk masing2 individual end items/SKU.
d. Menyeimbangkan
MPS dengan capacity tersedia.
3) Distribution planning
Distribution planning dalam suatu
perusahaan bertujuan untuk dipakai dalam inventory finished goods, merencanakan
kapasitas logistics untuk kebutuhan S&OP, merencanakan replenishment order
ke factory supply.
4) Demand Forecasting
Demand forecasting diperlukan
untuk pemenuhan order customer lebih lama dari lead time produksi,
perlu waktu untuk menambah /mengurangi kapasitas (mesin, labor, supplier,
warehouse), untuk perencanaan budget keuangan.
5)
Petunjuk
Evaluasi Forecasts
Petunjuk
evaluasi forecast, meliputi forecasts secara alami tidak sempurna, forecasts
yang baik mendekati rata-rata aktual, forecasts secara alami pasti mengandung
kesalahan, perlu mengukur forecast error, perhatikanlah bias : demand yang
secara konsisten selalu diatas atau dibawah forecast, identifikasi variasi
demand yang besar nilainya, identikasi peluang improvement forecast.
6)
Hasil
Evaluasi Forecast
Hasil evaluasi forecast ini digunakan
untuk perbaiki bias melalui forecasts yang realistis & teknik yang lebih
baik, improvement forecasts untuk mengurangi forecast error, identifikasi
process improvements yang akan mengurangi demand variation, bekerjasama dengan
dengan customers untuk antisipasi demand, menggunakan deviasi forecast error
untuk menghitung safety stock, mengurangi inventory & memperbaiki customer
service.
7) Forecast Error
Beberapa cara untuk mengurangi
forecast error yaitu meningkatkan akurasi dengan cara fokus untuk mengurangi
forecast error (cara paling baik), forecast error memiliki bias, terminology
forecast error dapat menggunakan teknik quality control untuk mengatasinya.
8) Distribution
Replenishment
Berikut ini beberapa permasalahan
dalam distribution replenishment dalam suatu perusahaan adalah:
i.
Kapan, dimana, dan berapa
banyak distribution inventory yang dibutuhkan?
ii.
resources apa yang dibutuhkan agar dapat
dikirim tepat waktu?
Sumber
·
Susanto, Tony.D.
2016. Manajemen Layanan Teknologi Informasi.Surabaya;Asosiasi Sistem Informasi
Indonesia (AISINDO).
No comments:
Post a Comment